Kamis, 7 Februari 2019

Merajut Kebhinekaan, Memperkokoh Persatuan

“Sebagai generasi penerus, suku Indonesia Tionghoa adalah bagian tak terpisahkan dari Bangsa Indonesia. Komunitas Indonesia Tionghoa harus ikut aktif meneruskan perjuangan pendahulu kita untuk memajukan bangsa Indonesia menjadi bangsa besar yang disegani, mandiri secara ekonomi, berdaulat secara politik , berkepribadian dan berbudaya luhur serta berkeadilan sosial” - (Sudhamek AWS)

Jakarta, 7 Februari 2019 - Sepenggal kalimat tersebut disampaikan oleh Sudhamek Agoeng Waspodo Soenjoto selaku Ketua Panitia Imlek Nasional 2019 yang juga merupakan Chairman Garudafood dan aktif juga di Komite Ekonomi Industri Nasional (KEIN) dan sebagai anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) pada saat pembukaan ‘Perayaan Imlek Nasional’ bertema “Merajut Kebhinekaan Memperkokoh Persatuan” pada tanggal 7 Februari 2019 di Hall B3 & C3 JIEXPO, Kemayoran, Jakarta Pusat. Hadir dalam acara tersebut Presiden Republik Indonesia Ir.H Joko Widodo didampingi Presiden ke-5 Megawati Soekarnoputri dan Wakil Presiden ke – 6 Try Sutrisno.



Diperkirakan lebih dari 12.000 warga hadir dalam perayaan Imlek Nasional 2019 yang digawangi oleh Ketua Panitia Imlek Nasional 2019 Sudhamek AWS, Teddy Sugianto dan David Herman Jaya sebagai Wakil Ketua, dibantu oleh Sekretaris Eddy Hussy dan Ulung Rusman, serta Pui Sudarto, Husin Widjajakusuma, Ferry Salman sebagai Bendahara. Kepanitiaan ini juga melibatkan tokoh serta berbagai elemen masyarakat Tionghoa yang membawahi beberapa bidang lainnya.

Presiden Republik Indonesia Ir.H Joko Widodo dalam sambutannya juga menyampaikan apresiasinya karena perayaan ini merupakan kali pertama seluruh suku Indonesia Tionghoa merayakan Imlek secara bersama-sama dan dalam lingkup nasional. “Inilah kekayaan dan keanekaragaman budaya yang ada di tanah air Indonesia. Kita harus paham bahwa kita ini adalah bangsa besar yang dianugerahi dengan beragam warna, seperti perbedaan agama, suku, adat, agama bahkan bahasa,’ ujarnya menambahkan. Dalam sambutannya Jokowi juga menekankan untuk terus memelihara persatuan, persaudaraan dan kerukunan antar sesama karena hal ini merupakan aset bangsa yang harus terus dijaga.



Perayaan Imlek Nasional ini terasa istimewa karena pilihan desain, susunan acara dan pesertanya dirangkai sedemikian rupa sehingga sesuai dengan temanya. Warna dasar yang menjadi latar belakang acara ini adalah merah putih (dimensi kebangsaan) yang dirangkai dengan motif batik mega mendung (dimensi akulturasi budaya). Untuk itu rangkaian acara juga dibuat untuk menjiwai kesatuan dalam kebhinekaan Indonesia. Misalnya: alat musik klasik Guzheng digunakan untuk mengiringi lagu-lagu kebangsaan Indonesia. Sebaliknya Kolintang digunakan untuk mengiringi lagu-lagu daerah Indonesia maupun lagu Mandarin. Atraksi khas Tionghoa Barongsai juga ditampilkan bersama dengan Reog dan Ondel-ondel. Panitia acara juga mengundang total 29 raja dari seluruh nusantara serta tokoh-tokoh nasional yang mewakili bidangnya seperti: olahraga, kesenian dll.



Di tempat yang sama, pada 7-10 Februari 2019, juga diselenggarakan Festival Perayaan Imlek Nasional yang terbuka untuk umum setiap harinya mulai pukul 10.00 – 22.00 WIB. Festival tersebut dimeriahkan oleh berbagai pagelaran budaya nusantara, atraksi naga, akulturasi kebudayaan, atraksi reog, ondel-ondel dengan barongsai, pameran produk dalam negeri, kuliner khas Tionghoa, food truck dan makanan dari berbagai daerah di Indonesia ditutup dengan kemeriahan kembang api setiap harinya.

Tahun Baru Imlek merupakan hari terpenting dalam tradisi masyarakat Tionghoa dan telah menjadi ekspresi tradisi yang dirayakan di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia. Penetapan Hari Raya Imlek sebagai hari libur Nasional merupakan salah satu bentuk pengakuan negara terhadap suku Indonesia-Tionghoa yang tak lepas dari pasang surut sejarah Indonesia.



Salah satunya terekam dalam Harian Merdeka edisi 17 Februari 1946 yang meneguhkan komitmen suku Indonesia-Tionghoa dalam menegakkan kedaulatan Indonesia : “Rakjat Tionghoa poen insjaf akan hal ini. Dengan bekerdja bersama, bahoe-membahoe dengan bangsa Indonesia, rakjat Tionghoa toeroet berdjoeang di Soerabaja oentoek Indonesia Merdeka”.

Berbagai peristiwa kebangsaan ini sarat akan nilai keberagaman yang mencerminkan spirit Kebangsaan seperti yang diwariskan oleh para pendiri bangsa, dan diingatkan kembali oleh Presiden keempat Republik Indonesia, Dr. K. H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Melalui Keppres RI No. 6/2000, Gus Dur memberikan kebebasan untuk merayakan Imlek. Dan kemudian Imlek sebagai Hari Libur Nasional ditetapkan sejak tahun 2003 oleh Ibu Megawati Sukarnoputri selaku Presiden kelima Republik Indonesia. Dan mulai sejak itu, Tahun Baru Imlek diperingati sebagai hari libur untuk semua masyarakat Indonesia.



Asal usul perayaan Tahun Baru Imlek sesungguhnya adalah untuk merayakan datangnya musim semi di daratan Tiongkok. Perayaan ini diisi dengan rangkaian kegiatan berupa doa, berkumpul dan makan bersama keluarga, kerabat dan para sahabat. Hidangan yang umumnya ada saat makan bersama adalah ikan bandeng, pangsit dan aneka kue khas Imlek semisal kue nian gao atau kue keranjang. Berbagai simbol dan tradisi yang sering terlihat pada saat Tahun Baru Imlek ini, masing-masing memiliki makna sebagai pembawa keberuntungan dan harapan baik untuk tahun mendatang.

Tahun Baru Imlek 2570 atau tahun 2019 Masehi ini diharapkan menjadi rumah bersama, bagi berbagai golongan etnis Indonesia-Tionghoa yang terdiri dari beragam sub etnis dengan marga dan agama yang berbeda-beda untuk mensyukuri keberagamannya yang sekaligus menjadi kekuatan bangsa Indonesia, demi merajut kebhinekaan dan memperkokoh persatuan Indonesia.

Mari mengakhiri semua prasangka dan mulai menumbuhkan spirit kebaikan dan perdamaian dalam keberagaman (Bhinneka Tunggal Ika). Selamat Merayakan Tahun baru Imlek 2570 atau tahun 2019 Masehi dalam kebaikan dan perdamaian. Gong Xi Fa Chai!.